Corona Bisa Jadi Pemicu Perang Dunia III

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, WASHINGTON  – Hubungan Washington dengan Beijing kembali retak akibat merebaknya pandemi Covid-19. Tensi yang meninggi antara keduanya berpotensi memantik apa yang disebut sebagai ‘Perang Dunia III’.

Tahun 2020, umat manusia seolah mendapat bad luck. Berbagai rentetan kejadian buruk terjadi sejak awal tahun. Namun yang paling menyita perhatian, menguras tenaga dan menghancurkan mental adalah merebaknya wabah yang disebabkan oleh virus corona.

Bacaan Lainnya

Wabah awalnya menjangkiti China sejak akhir tahun lalu ketika beberapa orang di Wuhan menderita penyakit pneumonia misterius. Tepat di penghujung tahun 2019, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pemicu pneumonia tersebut merupakan virus corona jenis baru yang kemudian disebut SARS-CoV-2. Penyakit yang disebabkan virus ini kemudian disebut sebagao Covid-19.

Jumlah kasus di Wuhan terus bertambah hingga pemerintah pusat China menetapkan lockdown di kota tersebut dan sekitarnya di Provinsi Hubei pada 23 Januari 2020. Walau karantina ketat sudah dilakukan di China, hal ini tak lantas membuat virus berhenti menyebar.

Pada pertengahan Februari ketika kasus di China menunjukkan tanda-tanda menuju puncaknya, lonjakan kasus justru terjadi di Korea Selatan. Kemudian kasus baru juga dilaporkan bertambah signifikan di Iran hingga Italia. Awal Maret, kengerian wabah makin terasa ketika zona Euro berubah menjadi hotspot wabah.

Dengan laju transmisi yang sangat cepat dan sudah semakin meluas, WHO akhirnya menetapkan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Sejak saat itu kasus terus bertambah dengan pesat. Episentrum virus pun mulai bergeser dari Eropa ke AS.

Kini sudah lebih dari 4,4 juta orang di 200 negara dan teritori dinyatakan positif Covid-19. Paling banyak dari AS dengan 1,3 juta orang dinyatakan terinfeksi virus. Untuk menekan penyebaran virus, Paman Sam memilih untuk menerapkan lockdown di setidaknya 10 negara bagian dan wilayah mulai dari Wisconsin hingga New York.

Lockdown menimbulkan konsekuensi ekonomi yang sangat besar bagi AS. Angka pengangguran melesat mencapai 14,7%. Klaim tunjangan pengangguran sejak pertengahan Maret melesat menjadi 36,5 juta. Ekonomi Negeri Adidaya pun terkoyak. Pada kuartal I-2020 ekonomi AS mencatatkan kontraksi 4,8% (annualized). Kontraksi terdalam sejak krisis 2008 dan pertama sejak 2014.

Melihat hal ini Trump selaku Nakhoda kapal berbendera garis merah dan bintang-bintang ini naik pitam. Trump menuding kegagalan China dalam menangani wabah membuat pandemi global terjadi. Saking geramnya, Trump bahkan menyebut virus ini sebagai ‘virus China’ dan mendapatkan banyak kritikan.

“Kami punya banyak informasi, dan itu tidak bagus. Apakah (virus corona) datang dari laboratorium atau dari kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu dari sumbernya,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Washington dan Beijing memang baru meneken kesepakatan damai dagang fase I pada 15 Januari 2020. Namun gara-gara pandemi virus corona, Trump sepertinya tidak tertarik untuk melanjutkan negosiasi ke babak selanjutnya.

Bahkan beredar kabar pemerintahan Trump akan membuat Undang-undang (UU) yang mengharuskan China bertanggung jawab atas penyebaran virus corona. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, pemerintah sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act).

Dalam UU tersebut, China disebut harus bertanggung jawab penuh dan siap menjalani penyelidikan yang dipimpin oleh AS, sekutunya, dan WHO. China juga bisa didesak untuk menutup pasar tradisional yang menyebabkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia menjadi sangat tinggi.

UU itu juga mengatur sanksi bagi China. Misalnya pembekuan aset warga negara dan perusahaan China di AS, larangan masuk dan pencabutan visa, larangan individu dan perusahaan China untuk mendapatkan kredit, sampai melarang perusahaan China untuk mencatatkan saham di bursa AS.

“Saya sangat kecewa terhadap China, mereka seharusnya tidak pernah membiarkan ini terjadi. Kami sudah membuat kesepakatan (dagang) yang luar biasa, tetapi sekarang rasanya sudah berbeda. Tinta belum kering, dan wabah ini datang. Rasanya tidak lagi sama,” keluh Trump.

Tak sampai di situ saja, Trump bahkan berniat untuk memutus hubungan dengan China. Ketegangan yang terjadi antara keduanya dikhawatirkan tereskalasi dari hanya balas dendam ekonomi menjadi sebuah konfrontasi fisik ke ranah militer. Pasalnya tanda-tanda eskalasi pun mulai terlihat.

Terbaru, AS bahkan meningkatkan tekanan militer terhadap China di Laut China Selatan. Selama beberapa minggu terakhir kapal-kapal Angkatan Laut AS dan kapal pembom Angkatan Udara B-1 telah melakukan misi di kawasan yang menjadi rebutan banyak negara itu.

Pada Rabu (13/5/2020), Armada Pasifik Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa semua kapal selamnya di wilayah tersebut berada di laut melakukan operasi untuk mendukung kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka di tengah-tengah pandemi COVID-19. Angkatan Udara AS juga terus mengirimkan pesawat pembom ke wilayah tersebut.(*/twg)

Pos terkait