Ditolak 23 Rumah Sakit, PDP Corona Meninggal

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, BANTUL – Gugus Tugas Penanggulangan COVID 19 Kabupaten Bantul akhirnya menyebut pasien rujukan dari Rumah Sakit Nur Hidayah dua hari yang lalu adalah pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona. Pasien tersebut sempat dirawat di RS Nur Hidayah dan karena kondisinya kritis maka harus dirujuk ke RSUP Sardjito.

Sebelum dirawat di RSUP Sardjito, pihak Rumah Sakit Nur Hidayah mengaku kesulitan merujuk pasien tersebut ke rumah sakit yang jenjangnya lebih tinggi. Bahkan pemilik Rumah Sakit Nur Hidayah, dr Sagiran sempat mengunggah video terkait keluhannya terkait penolakan 23 rumah sakit untuk merawat pasien tersebut.

Bacaan Lainnya

Juru bicara Gugus Tugas Penanggulangan COVID 19 Kabupaten Bantul, dr Sri Wahyu Joko Samudra mengungkapkan, hingga Rabu (1/4/2020) siang pasien yang sedang rawat inap di rumah sakit berkaitan COVID 19 jumlahnya puluhan. Pasien yang masih dirawat tersebut di antaranya Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 36 orang, Pasien confirm positif ada 5 orang dan pasien orang dalam pemantauan (ODP) ada 5 orang.

Dia menyebutkan, untuk 5 orang yang konfirmasi positip tersebut masing-masing dirawat di Rumah Sakit Panembahan Senopati (RSPS) 2 orang, di Rumah Sakit Panti Rapih Kota Yogyakarta 1 orang, RS PKU Muhammadiyah Bantul 1 orang yang merupakan pindahan dari RS Respira dan seorang lagi di RSUP Sarjito.

“PDP meninggal adalah satu orang tapi belum sempat diambil swab laboratorium. Pasien ini salah satu yang dirujuk dari RS Nur Hidayah ke RSUP Sarjito,” katanya menjelaskan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bantul, dr Sagiran mengaku prihatin dengan meninggalnya pasien yang sempat dirawat di Rumah Sakit miliknya, Nur Hidayah. Meski dengan peralatan ada alat pelindung seadanya, pihaknya telah berusaha maksimal untuk menangani pasien tersebut.

Bahkan menurut versi rumah sakitnya, pasien yang kritis tersebut masuk kategori PDP dan harus segera ditangani oleh rumah sakit rujukan. Namun upaya pihaknya merujuk pasien tersebut sempat terhambat akibat 23 rumah sakit menolak untuk merawatnya.

“Early warning sudah berbunyi. Dan ini harus diantisipasi,”tandasnya.

Selain itu, Sagiran juga mengungkapkan jika ada dokter yang berpraktek di Bantul mulai masuk dalam daftar Orang Dalam Pengawasan (ODP) akibat menangani kasus yang diduga COVID 19. Berapa jumlah pastinya, ia mengaku masih melakukan pendataan.

Sagiran mengungkapkan, saat ini APD yang ada di Kabupaten Bantul belum memadai dan sesuai standar penanganan COVID-19. Sehingga ia berharap akan ada bantuan dari pihak lain yang peduli akan keselamatan dokter dan tenaga medis lainnya.

“Anggota IDI Bantul ada ratusan dan APD yang dimiliki sangat minim,” ungkapnya.

Sagiran menambahkan, anggota IDI Bantul mencapai 726 dokter dan yang melakukan praktek mandiri ada 281 dokter, praktek di RS ada 375 dokter. Sementara yang bertugas di Puskesmas 88 dokter dan yang praktek di luar bantul 94 orang. Jika menghitung masker dan kaos tangan maka kebutuhan APD adalah dikalikan 5

“Yang mencatatkan butuh APD ada 74 titik sebanyak 766 APD,”tambahnya.(*/erl/kpr)

Pos terkait