Gelapkan Uang Nasabah, Karyawati BPR Jadi Tersangka

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, TEGAL – Polres Tegal Kota menetapkan Febrinita Budi Winarti (39), seorang karyawati salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kota Tegal, sebagai tersangka penggelapan uang nasabah. FBW diamankan setelah diduga melakukan penggelapan uang nasabah hingga miliaran rupiah.

Tersangka dibekuk jajaran Satreskrim Polres Tegal Kota di kediamannya di Jl. Imam Bonjol, Desa Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jumat (5/6) lalu.

Bacaan Lainnya

“Tersangka ditangkap Jumat. Pelapor baru satu orang dengan kerugian Rp 1,3 miliar,” kata Kasat Reskrim AKP Gineung Pratidina, Selasa (9/6).

Gineung mengatakan, korban dari aksi FBW kemungkinan lebih dari satu orang nasabah. Pihaknya masih menelusuri kemungkinan ada korban lain. “Kemungkinan korbannya banyak, lebih dari satu. Kita masih tunggu laporannya,” kata Gineung.

Gineung mengungkapkan, sebelumnya pada Rabu 6 Mei 2020 sekitar pukul 14.00 WIB, di Kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Central Artha, di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Tegal Barat, telah terjadi dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan.

Korban, VC warga Mejasem menyetorkan uang sebesar Rp 1 miliar lebih ke PT. BPR Central Artha melalui FBW yang rencananya akan didepositokan dengan jangka waktu 3 bulan. Korban menyetorkan uang secara bertahap sebanyak 4 kali setoran dan selalu diterima oleh tersangka.

Dari empat kali setoran, korban hanya menerima 2 lembar bukti setoran. Yaitu setoran pada 4 Maret 2020 sejumlah Rp 800 juta, dan setoran tanggal 5 Maret 2020 sejumlah Rp 300 juta. Sedangkan 2 setoran lainnya tidak diberikan tanda terima.

Total setoran sebanyak Rp 1,6 miliar, diterbitkan 5 lembar bilyet deposito. Empat lembar diterima korban dari tersangka dan satu lembar dari salah satu karyawan lainnya.

Setelah menerima bilyet deposito tersebut, pada 8 Mei 2020 sekitar pukul 12.30 WIB, korban datang ke BPR berniat untuk mengecek deposito dan juga hendak melakukan pencairan deposito. Namun deposito yang masuk hanya ada Rp 300 juta.

Dari 5 bilyet deposito milik korban, hanya 1 lembar bilyet deposito yang bisa dicairkan sedangkan 4 lembar bilyet deposito diduga palsu. Setelah mengetahui hal tersebut, korban kemudian melakukan klarifikasi kepada tersangka. Tersangka mengakui uang milik korban yang disetorkan hanya Rp 300 juta.

Sedangkan sisanya digunakan sendiri oleh tersangka, termasuk bilyet deposito yang diberikan oleh tersangka juga diakui palsu. Akibat kejadian korban mengalami kerugian sejumlah Rp 1,3 miliar. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka FBW dijerat pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan. (*/set/ppc)

Pos terkait