Hubungan China dan Australia Memanas

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, MELBOURNE  – Menteri Pendidikan Australia Dan Tehan menolak klaim China yang menyebut negaranya sebagai tempat di mana banyak kejadian rasisme terjadi. Tehan mengatakan Australia adalah masyarakat multikultural yang menyambut baik pengunjung internasional.

“Keberhasilan kami dalam meratakan kurva berarti kami adalah salah satu negara teraman di dunia bagi siswa internasional untuk tinggal saat ini,” katanya dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilaporkan AFP, Rabu (10/6).

Bacaan Lainnya

“Kami menolak pernyataan China bahwa Australia adalah tujuan yang tidak aman bagi siswa internasional.”
Hal senada juga dilayangkan Vicki Thomson, Kepala Eksekutif Universitas Group of Eight Australia kepada AFP. Thomson mengatakan sangat prihatin jika China menghalangi siswanya untuk datang dan bersekolah ke Australia.

“Kami tidak memiliki bukti yang diberikan kepada kami bahwa ada masalah diskriminasi rasial yang terjadi di kampus-kampus kami, dan saya pikir perlu dicatat bahwa kami tidak memiliki banyak siswa di kampus kami saat ini,” katanya.

Thomson juga menyesalkan bahwa sektor pendidikan telah “terjebak” di tengah ketegangan geopolitik antar kedua negara.

Sanggahan-sanggahan pejabat-pejabat Australia itu disampaikan setelah pada hari Selasa Kementerian Pendidikan China memperingatkan para siswanya untuk berhati-hati di Australia karena ada berbagai insiden diskriminatif terhadap orang-orang Asia di Negeri Kanguru selama pandemi COVID-19.

Tuduhan itu merupakan serangan terbaru dari pihak China di tengah ketegangan diplomatik antara kedua negara. Australia dan China telah terlibat perselisihan pasca Australia meminta dilakukan penyelidikan independen soal asal-usul virus corona, yang disebut pemerintah China kemungkinan berasal dari hewan liar.

Virus corona yang telah menginfeksi 7,3 juta lebih orang di seluruh dunia saat ini, pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada Desember lalu. Setelahnya virus itu dengan cepat menyebar ke berbagai negara dunia, termasuk Australia.

Meski pemerintah China mengklaim virus itu mungkin berasal dari hewan buas, namun banyak negara dan pihak yang meragukan hal tersebut dan meminta dilakukan penyelidikan. Namun, seruan-seruan itu ditolak China.
China bahkan marah saat Australia bersikeras untuk melakukan penyelidikan, dan mengeluarkan berbagai serangan setelahnya. Serangan-serangan itu ditujukan ke berbagai bidang, mulai dari perdagangan hingga pariwisata.

Terbaru, pada Selasa China melayangkan tuduhan soal adanya tindakan rasisme di Australia, di mana para mahasiswa China diminta untuk berhati-hati. Mahasiswa China merupakan kelompok luar negeri terbesar di universitas-universitas Australia.

Sehari sebelumnya, juru bicara kementerian luar negeri China juga telah memperingatkan soal banyaknya diskriminasi terhadap orang-orang China di Australia. Tuduhan ini dikeluarkan setelah China mengatakan kepada warga negaranya untuk tidak melakukan perjalanan ke Australia sama sekali.

Hal ini semakin memberi tekanan pada universitas-universitas Australia yang sebelumnya telah mendapat cukup banyak tantangan dari merebaknya wabah COVID-19. Wabah tersebut telah memaksa kampus-kampus untuk ditutup dan menghalangi masuknya mahasiswa asing baru yang biasa menyumbang miliaran dolar per tahun ke sektor ini.

Pendidikan adalah ekspor terbesar keempat Australia, di belakang bijih besi, batu bara, dan gas alam. Di mana ada lebih dari 500.000 siswa internasional terdaftar tahun lalu, menghasilkan sekitar Aus $ 37 miliar untuk perekonomiannya.(*/res)

Pos terkait