Jejak Pagaruyuang di Negeri Sembilan

  • Whatsapp
Jejak Pagaruyuang di Negeri Sembilan

SEBUAH legenda adat (Tambo) yang berbahasa Minang mengisahkan, antara lain, kejayaan sebuah kerajaaan yang berdiri di tanah Minangkabau dengan wilayah kekuasaan mencapai Pasaman Barat hingga Kampar Riau. Tambo itu menyebutkan:

“Dari Sikilang Aia Bangih
Hingga Taratak Aia Hitam
Dari Durian Ditakuak Rajo
Hingga Sialang Balantak Basi”

Bacaan Lainnya

Kerajaan itu berjaya di bawah gagasan sang pendiri, seorang peranakan Minangkabau-Majapahit. Dia adalah Adityawarman yang pada 1347 membangun Kerajaan Pagaruyang. Adityawarman adalah putra dari panglima perang Kerajaan Sriwijaya, Mahesa Anabrang (Adwayawarman), dan putri dari kerajaan Dharmasraya, Dara Jingga.

Mengutip JG Casparis dalam buku Peranan Adityawarman Putera Melayu di Asia Tenggara, ketika awal bertakhta, Adityawarman hanyalah raja bawahan dari Majapahit. Ia dikirim ke tanah Minang untuk menundukkan daerah-daerah penting di Sumatra, seperti Kuntu dan Kampar, yang merupakan penghasil lada. Tapi, kemudian, ia justru melepaskan diri dari Majapahit.

Adityawarman menobatkannya sebagai raja dengan gelar Maharajadiraja. Namanya terpahat di bagian belakang Arca Amoghapasa yang ditemukan di hulu Sungai Batang Hari. Negerinya terkenal dengan Pagaruyung karena Adityawarman memagari daerah kekuasaannya dengan ruyung pohon kuamang agar aman dari gangguan pihak luar. Pada awal kekuasaannya, Kerajaan Pagaruyung berada di bawah pengaruh agama Buddha sekitar abad ke-13.

A Batuah dan A Madjoindo dalam bukunya Tambo Minangkabau dan Adatnya menulis, Islam mulai berkembang di Pagaruyung pada abad ke-16. Agama ini diperkenalkan oleh para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Tengku Syiah Kuala atau yang lebih terkenal dengan nama Syaikh Abdurrauf Singkil dianggap sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam.

Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Dalam karya sastra sejarah Minangkabau atau yang dikenal dengan Tambo, tertulis raja Islam pertama di Pagaruyung bernama Sultan Alif. Masuknya Islam di ranah Minang memaksa sejumlah aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama ini mulai dihilangkan.

Pepatah adat Minangkabau yang terkenal berbunyi, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Yang berarti, adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam sedangkan agama Islam bersendikan pada Alquran.

Franz von Benda-Beckmann dalam bukunya Property in Social Continuity: Continuity and Change in the Maintenance of Property Relationships through Time in Minangkabau, West Sumatra menjelaskan, setelah Islam masuk, Raja Pagaruyung yang disebut Raja Alam memerintah dengan bantuan dua wakil raja. Yaitu, Raja Adat yang berkedudukan di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.

Ketiganya disebut Rajo Tigo Selo yang berarti tiga orang raja yang bersila atau bertakhta. Ketiganya mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing. Raja Adat menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan adat. Sedangkan, Raja Ibadat mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan agama. Jika dalam menjelankan tugasnya ada permasalahan yang tak dapat terpecahkan, barulah Raja Pagaruyung yang akan turun tangan.

Mengutip Sjafnir Aboe Nain dalam Memorie Tuanku Imam Bonjol menjelaskan, pada awal abad ke-19, konflik antara kaum Padri dan golongan bangsawan (kaum adat) menjadi awal mula runtuhnya Kerajaan Pagaruyung. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh. Begitu pula dengan daerah di pesisir selatan, Inderapura, yang menjadi kerajaan merdeka.

Akibat dari konflik tersebut, banyak keluarga kerajaan yang terbunuh. Namun, Sultan Muning Alamsyah selamat dan melarikan diri ke Lubukjambi. Keluarga kerajaan yang merasa terancam oleh Kaum Padri akhirnya meminta bantuan Belanda. Pada 10 Februari 1821, keluarga kerajaan, yaitu kemenakan dari Sultan Muning Alamsyah, Sultan Alam Bagagarsyah, beserta 19 pemuka adat, menandatangani perjanjian penyerahan kerajaan kepada Belanda.

Sebagai imbalannya, Belanda akan membantu peperangan melawan kaum Padri. Sedangkan, sultan akan diangkat menjadi Regent Tanah Datar mewakili pemerintah pusat.

Melihat pemerintahan kolonial Belanda, membuat kaum Padri dan kaum adat melupakan konflik. Mereka bersekutu dan berusaha mengusir Belanda. Sayangnya, Sultan Alam Bagagarsyah ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan.

Kuat di Kekuasaan, Namun tak Mengakar

Meski Buddha menjadi agama resmi pada awal berdirinya Pagaruyung, agama ini sulit diterima masyarakat. Hal tersebut lantaran masyarakat tidak secara langsung diperkenalkan dengan pengaruh Buddha. Agama ini hanya sebatas dikenal dengan kekuasaannya. Berbeda dengan Islam yang mampu menjadi sendi masyarakat Minangkabau.

Selama memerintah, Adityawarman memang menjadi raja yang besar dan kuat. Sayangnya, kekuasaannya hanya di sekitar istana. Sedangkan, kekuasaan terhadap rakyat tetap berada di tangan Datuk.

Dijelaskan oleh S Muljana dalam buku Sriwijaya, selama memerintah, Adityawarman membawa Kerajaan Pagaruyung ke puncak kejayaannya. Salah satunya dengan menjalin hubungan baik dengan negara Cina. Pada 1357, 1375, dan 1376, Adityawarman pernah mengirim utusannya ke Negeri Tirai Bambu itu.

Untuk sistem pemerintahannya, Adityawarman menggunakan corak Kerajaan Majapahit. Selama ini, ia dibesarkan di lingkungan Majapahit. Ia tahu batul bagaimana bisa membangun kerajaan yang besar seperti Majapahit. Hal inilah yang sedikit banyak memengaruhi gaya pemerintahan Adityawarman.

Namun, pemerintahan Adityawarman hanya terbatas di ibu kota. Sementara, daerah-daerah tetap diperintah oleh Datuk setempat. Bisa dikatakan, Adityawarman dianggap sebagai lambang kekuasaan. Sedangkan, kekuasaan sebenarnya berada di tangan pemimpin adat.

Kerajaan Islam Pagaruyung pernah berkuasa di wilayah Sumatra. Kerajaan yang pernah dikuasai oleh agama Buddha itu menjadi simbol perekat antara dua entitas agama yang berbeda. Islam pun menjadi bagian tak terlepaskan dari masyarakat tanah Minang.

Nama : Darul Qarar, Pagaruyuang, Malayapura

Masa : 1347-1825 M

Ibu kota : Pagaruyung

Bahasa : Minang, Melayu, Sansekerta

Agama:  Semula Buddha beralih ke Islam

Fakta : Penyebar Islam pertama kali di Pagaruyung pada abad ke-16 adalah Syekh Abdurrauf Singkil (Tengku Syekh Kuala).

Pada abad ke-17, Pagaruyung memeluk Islam.

Wilayah kekuasaannya meliputi daerah tempat tumbuh berkembangnya adat Minangkabau.

Kekuasaannya meliputi Pasaman Barat, Bengkulu, Jambi, dan Kampar Riau.

Sejumlah kerajaan Islam di Sumatra masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Pagaruyung, yakni Kerajaan Inderapura, Kerajaan Negeri Sembilan, dan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Daftar Raja yang Berkuasa:

• Masa Dharmasraya

Trailokyaraja (1183 M)

Tribuwanaraja (1286-1316 M)

• Masa Peralihan

Akarendrawarman (1316-1347 M)

• Maharajadiraja

Adityawarman (1347-1375 M)

Ananggawarman (1375-(?))

• Yang Dipertuanagung

Sultan Ahmadsyah ((?)-1674 M)

Sultan Indermasyah (1674-1730 M)

Sultan Arifin Muniyangsah (1780-1821 M)

• Masa Belanda

Sultan Tangkal Alam Bagagar (1821-1833 M)

Tuang Gadang di Batipuh (1833-1841 M)

Pos terkait