Jerman Desak Dunia Internasional Selesaikan Krisis Idlib

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, BERLIN – Jerman memperingatkan bencana kemanusiaan yang serius di Suriah barat laut di tengah serangan baru-baru ini oleh rezim Bashar al-Assad dan sekutunya.
Menteri Pertahanan Jerman, Annegret Kramp-Karrenbauer, menyampaikan keprihatinannya. Dia menyatakan keprihatinan yang mendalam atas bentrokan dan serangan rezim baru-baru ini yang menargetkan warga sipil di Provinsi Idlib, barat laut Suriah.

“Bagaimana kita bisa mencegah bencana kemanusiaan di sana, bagaimana kita bisa menghindari pengusiran orang-orang yang terperangkap di wilayah ini…Pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab dengan memuaskan,” katanya dilansir Anadolu Agency, Selasa (4/2).

Bacaan Lainnya

Menteri Karrenbauer meyakini ini memerlukan pendekatan internasional. “Karena itu baik bahwa kita, sebagai negara-negara E3 (Jerman, Prancis dan AS), akan melanjutkan diskusi kami dengan Presiden (Turki) (Recep Tayyip) Erdogan,” kata Karrenbauer.

Erdogan bertemu dengan para pemimpin tiga kekuatan utama Eropa, Jerman, Prancis, dan Inggris pada Desember, menjelang pertemuan puncak NATO di London, dan KTT format E3 plus Turki diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Pernyataan Kramp-Karrenbauer datang menyusul eskalasi militer di barat laut Suriah setelah pasukan rezim Assad menyerang tentara Turki yang dikerahkan di Idlib untuk memantau gencatan senjata.

Setidaknya enam personel militer Turki wafat dan tujuh lainnya cedera dalam penembakan hebat oleh pasukan rezim Bashar al-Assad di wilayah tersebut.

Kramp-Karrenbauer dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, tahun lalu telah mengusulkan zona keamanan yang dikendalikan secara internasional di Suriah utara, tetapi tidak dapat memenangkan dukungan dari mitra koalisinya.

Serangan militer rezim Suriah baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan dan masuknya pengungsi ke Eropa.

Terletak di barat laut Suriah, Provinsi Idlib adalah kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-rezim sejak pecahnya perang saudara pada 2011.

Saat ini tempat itu adalah rumah bagi sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dalam beberapa tahun terakhir oleh pasukan rezim di seluruh negara yang lelah perang. (*/rol)

Pos terkait