Kelok Sambilan, Pesona Keindahan Alam dan Arsitektur Putra Sumbar

  • Whatsapp

BERKUNJUNG ke Sumatra Barat, tidak lengkap bila tidak mampir dan menikmati kemegahan Layang Kelok Sembilan. Jembatan yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota itu merupakan salah satu bukti karya mengagumkan manusia.

Jembatan ini menjadi akses Payakumbuh menuju Pekanbaru, Provinsi Riau. Bentuknya yang berkelok-kelok dan menghubungkan dua dinding bukit terjal menjadikannya salah satu destinasi wisata menarik yang layak dikunjungi.

Bacaan Lainnya

Kemegahan jembatan yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Oktober 2013, terasa saat kendaraan melintas dari bawah jembatan dengan fondasi megah memutar dan menopang rangkaian jembatan menjadi salah satu pemandangannya.

Sebelum kendaraan berkelok memutar naik ke bukit. Kiranya perlu menikmati kemegahan dari bawah jembatan karena di lokasi itu disediakan spot atau lokasi swafoto dengan latar belakang fondasi yang gagah berdiri.

Pilihan latar belakang lainnya juga bisa didapat dari hiasan bunga taman yang berbentuk “cinta” serta pagar sungai yang mengalir deras yang disediakan di lokasi itu.

Setelah puas berswafoto di bawah jembatan, saatnya mulai naik dan melintas di kelokan tajam hingga menuju atas bukit.

Di lokasi inilah sudah menunggu warung-warung berjejer di tepian pagar jembatan, dan di sela-selanya warung, ada lokasi swafoto menarik karena latar belakangnya langsung kelokan tajam jembatan yang memiliki total panjang 2.537 meter tersebut.

Dari tempat inilah, jembatan yang terdiri atas enam ruas layang sepanjang 959 meter dan jalan penghubung sepanjang 1.537 meter itu melihatkan kegagahannya. Karena liukan tajam yang membentang di dua dinding bukit terjal, sangat terlihat jelas dan megah.

Catatan Wikipedia, pembangunan Jalan Kelok Sambilan awalnya dilakukan antara 1908 dan 1914, yakni pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan melintasi Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan Pulau Sumatra.

Dari tahun ke tahun, jalan itu selalu dipadati oleh masyarakat sehingga sering terjadi kemacetan, khususnya pada liburan.

Kementerian Pekerjaan Umum mencatat dalam sehari jalan itu bisa dilalui lebih dari 10.000 kendaraan dan pada masa libur atau perayaan hari besar meningkat dua sampai dengan tiga kali lipat.

Akibat kepadatan itu, dibutuhkanlah jalan pintas yang berbentuk layang untuk memperlancar akses di beberapa kelokan, kemudian dibangunlah layang kelok sambilan yang saat ini menjadi salah satu destinasi wistawan.

Layang itu merupakan jalan baru dan dibangun untuk mengatasi kemacetan, khususnya saat perayaan hari besar, seperti Lebaran. Ide membangun layang Kelok Sambilan datang dari Dinas Prasarana Jalan Sumatra Barat yang ketika itu mengusulkan ke pemerintah pusat untuk membangun jembatan layang.

Pembangunannya mulai dikerjakan pada bulan November 2003 setelah memperoleh persetujuan pemerintah pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Agustus 2003, kemudian diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Oktober 2013.***

Pos terkait