Masalembo, Segi Tiga Bermuda Indonesia

  • Whatsapp

SEGITIGA Bermuda atau Bermuda Triangle merupakan wilayah yang membentuk garis antara teritorial Britania Raya, Bermuda dan Puerto Riko di perairan Samudra Atlantik dengan luas 1,5 juta mil persegi atau 4 juta km persegi.

Dikenal penuh misteri karena mampu melenyapkan segala transportasi laut dan udara yang melintas di dekatnya, keberadaan Segitiga Bermuda selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis di luar nalar.

Bacaan Lainnya

Beberapa orang meyakini bahwa Segitiga Bermuda adalah markas hewan-hewan aneh, area lorong waktu, serta tempat perkumpulan iblis pengikut Dajjal.

Menurut Wikipedia, Akademisi Independen Amerika Serikat bahkan menyebut Segitiga Bermuda sebagai pangkalan UFO, tempat bertemunya makhluk luar angkasa atau alien yang enggan diusik keberadaanya oleh manusia.

Selalu menjadi misteri dari waktu ke waktu, rupanya Indonesia juga disebut-sebut memiliki Segitiga Bermuda dalam versi mini yang tak kalah mengerikannya dari Segitiga Bermuda Atlantik.

Masalembu atau Masalembo, merupakan sebuah wilayah kepulauan yang terletak di Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep di Jawa Timur.

Wilayah ini dikenal sebagai Segitiga Masalembo, yakni segitiga dengan garis khayal yang menghubungkan antara Pulau Bawean, Kota Majene, dan sejumlah kepulauan yang berada di Laut Jawa, termasuk perairan Masalembo.

Sama halnya dengan Segitiga Bermuda Atlantik yang seringkali membawa petaka.Perairan Masalembo juga dikenal sebagai perairan mematikan yang mampu melenyapkan transportasi laut dan udara yang melintas di sekitarnya.

Berikut sejumlah tragedi yang terjadi di Kepulauan Masalembo :

  1. Tampomas II 1981

Pada tahun 1981, kapal penumpang milik Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) terbakar dan tenggelam di kepulauan Masalembo.

Menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Sulawesi pada 27 Januari 1981, tragedi ini menewaskan ratusan penumpang kapal Tampomas II pada masa itu.

Kengerian kecelakaan Tampomas II bahkan terekam dalam nyanyian Iwan Fals pada lagu Celoteh Camar Tolol dan Cemar sebagai bentuk simpati atas kejadian tersebut.

  1. Kapal Roro Senopati Nusantara, 2006

Bertolak dari Teluk Kumai, Kalimantan Tengah, menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Kapal yang mengangkut 569 penumpang ini tenggelam.

Hujan deras dan gelombang hebat setinggi 6 meter memaksa para penumpang kapal mengais-ngais berusaha meraih sekoci demi bertahan hidup di tengah lautan selama 2 hari.

  1. Pesawat Adam Air DHI-574

1 Januari 2007 di Polewali Mandar, hilangnya pesawat Adam Air di perairan sekitar Masalembo sempat mengguncang publik.

Pesawat dengan rute penerbangan Jakarta – Surabaya – Manado ini hilang dalam penerbangan setelah transit di Surabaya.

Seluruh penumpang yang terdiri dari 96 penumpang dan 6 awak dalam kecelakaan tersebut tewas tanpa selamat.

Bangkai pesawat dan jasad seluruh penumpang masih terkubur di dasar laut Perairan Masalembo hingga kini.

  1. Tenggelamnya Kapal Sepanjang Tahun 2007 – 2009

Perairan Masalembu dengan gelombang tingginya juga menenggelamkan Kapal Mutiara Indah pada 19 Juli 2007.

Kejadian Naas ini disusul tenggelamnya KM Fajar Mas pada 27 Juli 2007. Sebulan kemudian KM Sumber Awal tenggelam pada 16 Agustus 2007.

Pada 8 Juli 2008, kapal kargo juga karam di perairan Masalembo. Masih belum berakhir, KM Mutiara menyusul pada 11 Januari 2009.

  1. KMP Mutiara Sentosa I dan KM Santika Nusantara

Selanjutnya pada 22 Mei 2017, KMP Mutiara Sentosa I mengalami kebakaran di perairan Masalembo.

Dua tahun kemudian dalam perjalanan menuju Banjarmasin, KM Santika Nusantara terbakar pada Kamis (22/8/2019)

Perairan Masalembo

Runtutan kejadian kecelakaan yang terjadi tentu membuat masyarakat bertanya-tanya tentang sebab petaka di Perairan Masalembo

Beberapa orang meyakini bahwa perairan Masalembo adalah perairan maut layaknya Segitiga Bermuda di Atlantik yang kerap kali menewaskan segala transportasi laut dan udara yang melintas di dekatnya.

Hal-hal mistis, seperti adanya kerajaan makhluk halus di bawah laut juga dipercaya oleh sebagian masyarakat. Faktanya, kawasan  perairan Masalembo memang memiliki arus laut yang sangat kencang.

Pola di kedalaman laut segitiga Masalembo sangat jelas menunjukkan bentuk segitiga yang hampir sempurna dalam bentuk segitiga sama sisi. Perairan ini merupakan tempat bertemunya dua arus.

Arus pertama berasal dari barat dan terus memanjang ke Laut Jawa, sementara arus utara berasal dari Selat Makassar.

Dua arus berbeda ini kemudian bertemu di perairan Masalembo dengan membawa materia lain berupa sedimen pasir.

Tinggi gelombang dan kecepatan arus pada perairan Masalembo juga dipengaruhi oleh periode puncak intensitas angin.

Segitiga Masalembo juga memiliki batimetri di sisi barat yang lebih landai ketimbang di sisi timur.

Sedangkan di sisi timur, terdapat alur kedalaman laut yang cukup dalam yang membahayakan kapal ketika melintas.

Pada wilayah udara di segitiga Masalembo diyakini bahwa terdapat air pocket atau kantung udara yang dapat mengakibatkan kecelakaan udara.

Kantung udara ini mampu menyedot pesawat yang melintas dan terbang rendah, sehingga pesawat yang terbang di sekitar perairan Masalembo perlu untuk tahu batas aman ketinggian agar tidak terjadi kecelakaan udara. (*/ssk)

 

 

Pos terkait