Pemprov Sumbar Izinkan Kembali Salat Berjemaah di Masjid

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, PADANG – Menanggapi permintaan Majelis Ulama Indoensia (MUI), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat mengizinkan kembali salat berjemaah di masjid di tengah Pandemi Corona.

Meskipun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih diterapkan di Sumatetera Barat, namun salat berjemaah telah diperbolehkan, dengan syarat bahwa daerah tersebut aman dari wabah Corona.

Bacaan Lainnya

Pelonggaran aturan tersebut merupakan tanggapan atas surat MUI Sumatera Barat yang ditujukan kepada gubernur, bupati serta wali kota di daerah itu, dengan meminta agar salat berjemaah terutama salat jumat kembali digelar.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno menyebutkan, permintaan MUI itu sebenarnya sesuai dengan siaran pers yang diterbitkan 5 Mei 2020, sejalan dengan perpanjangan PSBB dengan mempertegas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 tahun 2020 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020.

“Kita memberikan kesempatan kepada bupati dan wali kota untuk membuat kebijakan dengan membolehkan salat berjemaah di masjid atau musala dengan mengikuti Maklumat dan Tausiyah MUI Sumbar Nomor 007/MUI-SB/V/2020,” ujarnya, Kamis (14/5).

Lalu, 13 Mei 2020, Gubernur Sumbar juga menerbitkan surat dengan nomor 360/117/Covid-19-SBR/V-2020 sebagai jawaban atas permintaan MUI agar dibolehkan salat berjemaah di masjid, surau ataupun musala.
Dijelaskan Irwan, izin penyelenggaraan salat berjemaah ditujukan bagi daerah-daerah yang telah menunjukkan tidak adanya kasus positif COVID-19.

Namun, tetap dikecualikan bagi rumah ibadah yang berada di pinggir jalan, tempat transit, pasar atau keramaian lainnya.

“Keputusan dapat memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) yang ada,” ungkapnya.

Bolehnya salat berjemaah di masjid, jelas Irwan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya, kepala daerah atau pejabat berwenang menetapkan bahwa daerah itu tidak sedang mewabah COVID-19.

Lalu, daerah itu telah ditutup pintu masuknya, sehingga tidak bercampur orang yang sehat dengan orang yang sakit (terpapar Corona).

“Juga harus dipastikan, jemaah yang hadir merupakan jemaah tetap, bukan pendatang,” jelasnya.
Kemudian, pelaksaan salat berjemaah harus mematuhi protokol kesehatan dalam upaya mencegah penularan COVID-19, seperti menyediakan tempat cuci tangan dan dilarang membentangkan sajadah atau tikar untuk tempat salat.

“Pelakasanaannya juga harus singkat, dilaksanakan secara iqtishaq atau sederhana dan salat sunah dikerjakan di rumah masing-masing saja,” katanya. (*/lkn)

Pos terkait