PHK Massal “Belai” Seluruh Dunia

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, WASHINGTON – Pandemi corona (Covid-19) menjadi krisis kesehatan dunia yang belum pernah terjadi di era modern. Efeknya terhadap pasar tenaga kerja pun cukup dahsyat.

Berdasarkan data Worldometer, hingga saat ini virus tersebut sudah “menyerang” lebih dari 200 negara, menjangkiti lebih dari 4,5 juta orang, dan lebih dari 300 ribu orang meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

Tidak hanya krisis kesehatan, virus ini juga menyebabkan kemerosotan ekonomi dunia akibat kebijakan social distancing, karantina wilayah (lockdown) atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna meredam penyebarannya yang masif.

Social distancing, lockdown, maupun PSBB semuanya sama, sama-sama membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti sehingga pertumbuhan ekonomi dunia merosot bahkan menuju resesi. Tanpa perputaran aktivitas ekonomi, bisa ditebak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal sudah pasti terjadi.

Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menunjukkan jumlah karyawan yang terimbas sudah tembus dua juta orang. Per 20 April 2020, ada 2.084.593 pekerja yang dirumahkan dan kena PHK akibat pandemi Covid-19. Sebanyak dua juta pekerja tersebut berasal dari 116.370 perusahaan.

Secara rinci ada 1.304.777 pekerja dari sektor formal yang dirumahkan dari 43.690 perusahaan. Sementara itu, pekerja formal yang kena PHK jumlahnya mencapai 241.431 yang berasal dari 41.236 perusahaan.

Tak hanya sektor formal saja, sektor informal dalam negeri juga terpukul dengan jumlah korban yang lebih banyak. Kemenaker mencatat ada 538.385 orang yang kehilangan pekerjaan dari 31.444 perusahaan atau UMKM terdampak Covid-19.

Angka dua juta itu kemungkinan besar belum final. Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan memperkirakan angka pengangguran Indonesia bisa bertambah hingga 5 juta orang akibat pandemi ini.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan, angka pengangguran bisa bertambah sekira 2,9 juta sampai 5 juta orang, berdasarkan simulasi yang dibuat pemerintah.

“Dengan skenario ini, kita siapkan, kalau pertumbuhan ekonomi seluruh tahun 2020 pada kisaran 2,3%. Dampaknya ke kemiskinan dan pengangguran. Dampak berat 2,9 juta pengangguran. Sangat berat bisa sampai lebih dari 5 juta orang,” kata Febrio dalam video conference, Senin (20/4).

Itu baru di Indonesia. Secara global, jumlah PHK akibat pandemi Covid-19 diprediksi mencapai 195 juta orang di triwulan II-2020 oleh Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO).

“Pekerja dan dunia usaha menghadapi bencana, baik di negara maju maupun negara berkembang. Kita harus bergerak cepat, tegas dan bersama-sama. Tindakan yang tepat bisa membuat perbedaan antara bertahan hidup dan keruntuhan” kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder, dalam press release 7 April lalu.

Menggunakan perhitungan jam kerja, pandemi ini diprediksi menghilangkan 6,7% jam kerja secara global, itu sama dengan dengan PHK terhadap 195 juta tenaga kerja.

Hilangnya jam kerja terbanyak diprediksi terjadi di negara-negara Arab, yakni sebesar 8,1% atau setara PHK terhadap 5 juta tenaga kerja, kemudian Eropa sebesar 7,8% sama dengan PHK 12 juta tenaga kerja, dan Asia Pasifik sebesar 7,2% atau sama dengan 125 juta tenaga kerja, menurut ILO.

Jumlah PHK tersebut tercermin dari kenaikan tingkat pengangguran di berbagai negara. Beberapa negara G-20 misalnya melaporkan tingkat pengangguran secara bulanan menunjukkan kenaikan.

Kenaikan paling parah terjadi di Amerika Serikat (AS), data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran di bulan April sebesar 14,7%, naik dibandingkan akhir 2019 sebesar 3,5%. China, negara pertama yang mengidentifikasi virus ini mencatat kenaikan tingkat pengangguran menjadi 6% di bulan April, dibandingkan akhir tahun lalu 5,2%.

Bahkan Jepang, negara dengan tingkat pengangguran yang sangat rendah, 2,2% di akhir 2019 naik menjadi 2,5% di bulan Maret, dan diprediksi semakin meningkat di bulan April.

Korea Selatan, di akhir tahun lalu tingkat penganggurannya sebesar 3,7%, naik tipis menjadi 3,8% di bulan April. Namun, tingkat pengangguran di Negeri Ginseng di bulan Februari sebesar 3,3%, yang artinya mengalami kenaikan 0,5 poin persentase pada periode Maret dan April.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) di awal bulan ini melaporkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia dalam setahun terakhir mengalami penurunan sebanyak 50.000 orang menjadi 5,01%.

Jumlah pengangguran pada Februari 2019 tercatat 6,82 juta orang atau turun dibandingkan Februari 2018 sebanyak 6,87 juta orang. Adapun tingkat pengangguran perkotaan lebih tinggi dibandingkan pengangguran di pedesaan.

Tetapi data tersebut tentunya belum mencerminkan dampak Covid-19, mengingat Indonesia baru mengalami kasus pertama di awal Maret. (*/pap)

Pos terkait