Uni Eropa Coba Hentikan Pencaplokan Tepi Barat oleh Israel

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, BRUSSEL  – Uni Eropa (UE) mencoba menghentikan aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat yang diusulkan Israel.

Kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrell mengatakan pihaknya akan menggunakan kekuatan diplomatik untuk mencegah tindakan sepihak.

Bacaan Lainnya

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan akan mencaplok beberapa pemukiman Tepi Barat dan Lembah Yordan pada awal Juli.

Orang-orang Palestina dengan keras menentang gagasan itu.

“Kita harus bekerja untuk mencegah inisiatif apa pun yang mungkin menuju pencaplokan,” kata Borrell mengutip BBC, Sabtu ( 16/5).

Dia mengatakan Uni Eropa berharap akan bisa bekerja sama dengan pemerintah baru Israel.

“Tindakan sepihak dari kedua pihak harus dihindari dan hukum internasional harus ditegakkan,” lanjut Borrell.

Beberapa negara Uni Eropa menyerukan kritik keras menganai masalah ini, termasuk kemungkinan sanksi, tetapi yang lain mendesak agar berhati-hati.

“Apa yang disepakati semua orang adalah kita harus meningkatkan upaya menjangkau pihak aktor yang relevan di Timur Tengah,” kata Borrell.

Penerapan kedaulatan Israel atas bagian-bagian Tepi Barat sejalan dengan “visi perdamaian” Presiden AS Donald Trump antara Israel dan Palestina, yang diresmikan pada Januari.
Dalam rencana perdamaiannya, Trump menggambarkan pembagian wilayah di mana negara Palestina dan Israel akan berdiri.

Disebutkan bahwa AS akan mengakui kedaulatan Israel atas wilayah yang direncanakan dalam Kesepakatan Abad Ini sebagai bagian dari Israel. Wilayah-wilayah itu adalah kompromi teritorial yang bersedia diberikan oleh Israel.

Dalam peta konseptual yang diunggah Trump di akun Twitternya, negara Palestina akan memiliki dua kali lipat luas wilayahnya saat ini dengan Ibu Kota di timur Yerusalem, di mana AS akan membuka kedutaannya.

Di sisi lain, Trump berjanji untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, sesuatu yang tidak dapat diterima oleh pihak Palestina.

Israel telah menduduki wilayah tersebut sejak perang Timur Tengah 1967. Lebih dari 600.000 orang Yahudi tinggal di sekitar 140 permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Sebagian besar komunitas internasional menganggap pemukiman ilegal menurut hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.

Negara-negara Arab, termasuk Yordania dan Mesir, juga telah memperingatkan terhadap tindakan aneksasi Israel.(*/fzy)

Pos terkait