Virus Corona Lumpuh di Suhu 56 Derajat Celsius

  • Whatsapp

Kabarsiana.com, DEPOK – Spesialis Mikrobiologi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. R. Fera Ibrahim, M.Sc., Ph.D., Sp.MK(K), mengatakan, Virus corona dapat mengalami kelumpuhan di tengah suhu 56 derajat Celsius.

Virus corona yang tak tahan panas terjadi saat mereka berada di luar sel inang atau ketika berada di ruang terbuka. Jadi, Virus corona merupakan makhluk hidup yang sensitif akan panas.

Bacaan Lainnya

“Virus secara umum, termasuk virus corona, merupakan mikroorganisme parasit yang tidak dapat berproduksi di luar sel inang, baru bisa bereplikasi memperbanyak diri kalau dia sudah masuk ke dalam sel hidup,” ucap Fera di RSUI Depok, Jawa Barat, Selasa (4/2).

Dijelaskan Fera, saat virus corona berada di ruang terbuka, belum menjangkiti inang sel, virus tersebut masih dapat dilumpuhkan. Salah satunya melalui pemanasan pada suhu sekitar 56 derajat Celsius selama 30 menit.

‚ÄúVirus tersebut juga dapat dilumpuhkan dengan alkohol pada kadar tertentu dan cairan disinfektan yang mengandung klorin, hydrogen peroxide disinfectant, chloroform dan pelarut lipid. Penggunaan alkohol sebanyak 75 persen dapat digunakan untuk kulit,” imbunya.

“Pemanasan selama 20 menit setelah mendidih juga dapat diaplikasikan pada peralatan atau pakaian yang digunakan di daerah tempat virus tersebut berpotensi mewabah. Sterilisasi alat yang memerlukan perendaman dipanaskan hingga 100 derajat Celsius dapat dilakukan untuk peralatan kecil, mainan tertentu, botol bayi, dan lain-lain,” lanjut Fera.

Selain itu, sinar ultraviolet alamiah, seperti sinar matahari dan udara bersih yang mengalami pertukaran melalui ventilasi ruangan, juga efektif untuk membersihkan virus, termasuk virus korona. Saat ini, Fera mengaku belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus ini.

Namun, gejala yang disebabkan oleh virus ini dapat diobati. Walaupun virus ini memiliki risiko kematian, namun angkanya masih rendah dibandingkan orang yang terjangkit dan kemudian sembuh. Oleh karena itu pengobatan yang dilakukan harus didasarkan pada kondisi klinis pasien dan perawatan suportif dapat sangat efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Untuk mencegah penyakit termasuk penyakit akibat virus korona maupun virus lainnya misal virus yang menyebabkan influenza masyarakat diimbau untuk menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), antara lain mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik,” jelasnya.

“Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci, menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin, penuhi Kebutuhan nutrisi dengan pola makan seimbang, istirahat cukup, dan berhenti merokok bagi para perokok,” jelasnya.

Penggunaan alat pelindung diri seperti masker hanya salah satu dari berbagai macam perlindungan yang tidak kalah penting.

”Dan jangan lupa, perhatikan etika saat batuk dan bersin. Tutup mulut dan hidung dengan menggunakan tisu saat bersin atau batuk. Jika tidak memiliki tisu, gunakan lengan dalam baju saat bersin atau batuk. Jangan gunakan tangan untuk menutup mulut dan hidung,” ungkapnya.

“Jangan meludah sembarangan atau membuang dahak sembarangan Segera buang tisu yang telah dipakai ke dalam tempat sampah. Segera bersihkan tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir atau dengan cairan antiseptik berbasis alkohol,” paparnya.

Penanganan prosedur yang dilakukan terhadap pasien terduga mengidap virus korona adalah dengan menempatkannya dalam ruang isolasi. Tujuannya, katanya, agar penularan ke orang lain dapat dicegah.

“Jika terduga masih menunjukan gejala awal, maka pasien akan mendapatkan terapi suportif untuk gejalanya disertai dukungan makanan yang sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan virus tersebut.

Jika, gejalanya hilang dan hasil telah negatif, pasien kemudian akan dipulangkan,” pungkasnya. (*/kha/okz)

Pos terkait